Hikmah Isro' Mi'roj Bagi Kita.

Hikmah Isro' Mi'roj Bagi Kita.

Hikmah Isro' dan Mi'roj.

Apakah hikmah Isro' Mi'roj bagi kita.?


Peristiwa Isra’ dan Mi’raj bagi umat Islam menjadi fenomena sejarah yang sungguh luar biasa, terjadi satu tahun sebelum hijrah (10 tahun dari masa diutusnya Sayyid Muhammad sebagai Nabi) pada malam Isnain tanggal 27 Rajab.

Saat Nabi sendirian tidur di rumah Siti Ummi Hani (saudara kandung Sayyidina Ali) datanglah Jibril untuk memintanya berjumpa Allah. Ada yang menyebutkan Nabi berada di sekitar Masjidil Haram sekitar Hijr Ismail dengan ditemani dua sahabatnya (Hamzah dan Ja’far bin Abi Thalib).


Peristiwa ini begitu cepat, dimana dalam waktu semalam menyelesaikan perjalanan jalur darat dan jalur udara. Hal ini untuk menguji keimanan orang Islam dapat dilakukan dengan bertanya percaya atau tidak terhadap Isra’.

Pembahasan Isro' Mi'roj.


Kata Isra’ berasal dari bahasa arab, artinya berjalan malam. Menurut istilah, Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW pada suatu malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa atau disebut Baitul Maqdis di Palestina.

Sedangkan Mi’raj dari bahasa arab, berarti naik ke atas. Menurut istilah Mi’raj berarti naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa menuju ke Sidrotul muntaha.

Jadi isro’ Mi’raj adalah perajalanan Pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa atau disebut Baitul Maqdis di Palestina dilanjutkan ke Sidrotulmuntaha guna menghadap Allah SWT untuk menerima wahyu.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [QS Al-Isra’ : 1]



Mari kita merenung Sejenak..!!!

Isro’ Miroj Nabi Saw yang menyimpan banyak hikmah yang dapat kita jadikan pelajaran penting. Diantaranya:

1. Alloh Tidak Akan Mengabaikan Hamba Yang Ia Kasihi.


Dimana pada waktu usaha dakwah Nabi Muhammad Saw tidak direspon oleh orang-orang kafir baik di Mekah atau Kota-kota yang lain, belum lagi baru saja Nabi Saw di tinggalkan oleh sang pembela sejatinya yaitu Abu Tholib ra dan istri tercinta Siti Khodijah Binti al Khuwailid, justru Alloh dengan segala kekuasaan-Nya membuktikan kepada dunia bahwa kisah besar isro’ mi’roj sebagai janji Alloh atas upaya hamba yang berjuang di jalan Alloh meski secara fisik tidak sukses. Karena Alloh tidak akan menyia-nyiakan usaha hambanya.

Dalam Qur’an surat An-Nisa’ ayat 74 disebutkan:

وَمَن يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Barang siapa yang berperang (berjuang) di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka akan Kami berikan pahala yang besar kepadanya”. 

Hikmah Yang dapat diambil.

Dari hikmah yang pertama dapat kita garis bawahi bahwa jika kita ingin diperhatikan oleh Alloh maka kita harus lebih mengutamakan perintah dan menjauhkan dari segala larangan-Nya. Dan tidak selamanya perhatian Alloh selalu ditampilkan dengan gelimang harta dunia saja, artinya orang yang tidak bergelimang harta bukan berarti dia tidak diperhatikan oleh Alloh dan yang bergelimang justru menjadi hisab kelak di akhirat. Wallohu A’lam.

2. Sebelum Menghadap Alloh Swt Nabi Saw Di Sucikan Dahulu.


Sebelum Rosululloh Saw menghadap Alloh Swt terlebih dahulu Malaikat Jibril as membedah dada Nabi Saw sebelum menerima tugas Shalat lima waktu,  dengan tujuan membersihkan penyakit hati yang selalu berada dalam diri manusia seperti iri, dengki, hasud dll.  Meskipun Nabi Saw terjaga dari penyakit-penyakit tersebut (Ma’shum).Sebagaimana yang ditulis pengarang Simthut Durrar, Habib Ali Al Habsyi:

وَمَا أَخْرَجَ الْلأَمْلَاكُ مِنْ قَلْبِهِ أَذَى وَلَكِنَّهُمْ زَادُوْهُ طُهْرًا عَلَى طُهْرٍ

“Malaikat tidak menghilangkan kotoran dari hati Nabi, tetapi agar hati yang suci semakin menjadi suci”.

Hikmah Yang dapat diambil.

Pelajaran bagi kita sebagai umatnya yang banyak dosa bahwa saat akan menghadap Allah SWT hendaknya lebih dahulu kita bersihkan hati kita masing-masing. Maksudnya, apabila kita shalat harus dimulai dengan hati yang suci, khusyu’ tidak memikirkan bab dunia. Sampai Allah SWT berfirman menggunakan lafadz ” أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ ” tidak ” اِفْعَلُوْا الصَّلَاةَ “. Iqamatusshalah tidak sama dengan fi’lusshalah. Fi’lusshalah yang penting melakukan rukun dan syarat shalat sudah disebut fi’lusshalah. Tetapi Iqâmatusshalâh yang maknanya adalah:

اِتْيَانُ الصَّلَاةِ بِحُقُوْقِهَا الظَّاهِرَةِ وَ حُقُوْقِهَا الْبَاِطَنَة

Melaksanakan shalat dengan menjalankan syarat-rukun shalat  yang dhahir dan syarat-rukun shalat yang bathin, yaitu khusyu’.

Lalu bagaimana agar dapat melaksanakan shalat dengan khusyu’?

Hatim Al Asham ditanya  “كَيْفَ تَخْشَعُ فِيْ صَلَاتِكَ؟” Bagaimana engkau dapat khusyu’ dalam shalatmu? Maka ia menjawab:

أَقُوْمُ وَأُكَبِّرُ لِلصَّلَاةِ وَ أَتَخَيَّلُ الْكَعْبَةَ أَمَامَ عَيْنِيْ

Aku berdiri dan bertakbir untuk melaksanakan Sholat dan aku membayangkan Ka’bah ada di depanku.

وَالصِّرَاطَ تَحْتَ قَدَمِيْ وَالْجَنَّةَ عَنْ يَمِيْنِيْ وَالنَّارَ عَنْ شِمَالِيْ وَمَلَكَ الْمَوْتِ وَراَئِيْ

Aku membayangkan Shirath di bawah telapak kakiku, surga ada di sebelah kananku, neraka ada di sebelah kiriku dan malakul maut ada di belakangku.


3. Mendapatkan Mandat Sholat 5 Waktu Yang Sebelumnya Berjumlah 50 Waktu.


Dimana ibadah sholat ini adalah satu-satunya tolak ukur baik dan tidaknya manusia. Artinya jika sholatnya baik maka Insya Alloh semua perilakunya pun akan menjadi baik. Baik dalam arti sukses mejalankan syarat dan rukunnya secara dohir dan baik secara bathin berarti dengan sholat ia benar-benar mengingat Alloh dan seakan-akan berdiskusi secara langsung. Dalam Hadits riwayat dari Umar ra bahwa Nabi Saw Bersabda;

الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ,فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ichsan (Berbuat baik dalam melakukan ibadah) adalah ketika kamu beribadah kepada Alloh harus dengan keyakinan bahwa kamu sedang melihat Alloh, namun jika kamu tidak melihat Alloh maka yakinlah bahwa Alloh Swt melihat kamu”.

4. Diskusi Antara Nabi Muhammad Saw Dengan Nabi Musa As


Kelihatan sekali betapa Nabi Musa as mengasihi Nabi Muhammad dan kaumnya. Dan Nabi Saw pun sangat menghormati Nabi Musa as yang lebih senior yang menyarankan untuk memohon kemurahan kepada Alloh Swt yang sebelumnya mewajibkan atas umat Muhammad sholat 50 kali dalam sehari semalam.

عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَلَمْ يُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Saw bersabda : “Bukan termasuk dari golonganku mereka yang tidak mengasihi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua”.

Akhiron..!!!
Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan setiap manusia pasti menyimpan sebuah pesan penting yang dapat kita jadikan bahan acuan untuk menghadapi kalanjutan kisah yang terjadi di kemudian hari.

Dalam sebuah Atsar sahabat Nabi Saw:

وَقَالَ سُفْيَانُ بِنْ عُيَيْنَةَ “إِذِ الْمَرْءُ كَانَتْ لَهُ فِكْرَةٌ فَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ عِبْرَةٌ 

Berkatalah Sahabat Sufyan Bin Uyainah bahwa “Seseorang yang mau berfikir tentang sesuatu yang terjadi maka di setiap ia berfikir akan terdapat hikmah yang dapat ia jadikan I’tibar”.

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa Isro' dan Mi'roj nya Baginda Nabi Muhammad Saw. Aamiin Ya Robbal'Alamin.

Wallohu A’lam.
Buka Komentar
Blogger
Disqus
Komentar

No comments

Advertiser