Bertaubatlah, Seberapa besar dosamu, Ampunan Alloh lebih besar.

Bertaubatlah, Seberapa besar dosamu, Ampunan Alloh lebih besar.

Kisah bertaubatnya seorang pemerkosa mayyit.


Pada kesempatan kali ini, Djazim Blog akan berbagi cerita menarik yang membuktikan bahwa rohmat dan maghfiroh Allah SWT sangatlah besar dan luas, tak peduli seberapa besar dosa seorang hamba. bagi mereka yang ingin bertaubat, dan memiliki harapan untuk mengakui dosa, dan memohon ampunan dengan beribu penyesalan, serta berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi, sangatlah tidak sulit bagi Allah SWT untuk memberikan rohmat dan ampunan-Nya. 

Rosulullah SAW bersabda :

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ 
Artinya: Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak mempunyai dosa. 


Diceritakan pada suatu saat, sahabat Umar bin Khattab menemui Rosulullah SAW dalam keadaan menangis. Kemudian Rosulullah SAW bertanya kepadanya:

“Apa yang membuatmu menangis wahai Umar ?”.

Dengan begitu sedihnya, sahabat Umar bin Khattab menjawab :

“Wahai Rosulullah, sesungguhnya ada seorang pemuda yang berada di pintu rumahku, ia telah membakar (meluluhkan) hatiku karena tangisnya”.

Kemudian Rosulullah SAW menyuruh sahabat Umar bin Khattab:

"Bawalah dia kemari. " 

Sahabat Umar pun segera menemui pemuda itu dan membawanya kepada Rosulullah SAW, sedangkan pemuda tersebut masih terus menangis.


Ketika pemuda itu menghadap Rosulullah SAW, Beliau Rosulullah bertanya:

"Wahai pemuda,  apa yang telah membuatmu menangis..??" 

Pemuda tersebut menjawab, sambil menangis.

“Aku telah melakukan dosa besar yang membuatku menangis, aku takut akan murka Tuhan yang Maha Pengasih (Allah) kepadaku”.

Rosulullah bertanya :

"Apakah kamu menyukutukan Alloh dengan sesuatu..??"

Pemuda itu menjawab :

"Tidak.." 

Kemudian Rosulullah bertanya :

"Apakah kamu membunuh seseorang tanpa hak..???"

Pemuda itu menjawab :

"Tidakkk..."

Rosulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosamu walaupun dosamu meskipun sebesar tujuh langit dan tujuh bumi”.

Namun pemuda tersebut menyangkal, dengan penuh kesedihan.

"Dosaku lebih besar dari tujuh langit dan gunung-gunung yang berdiri tegak."

Mendengar perkataan pemuda itu, kemudian Rosulullah bertanya :

"Apakah dosa mu lebih besar dari kursi Alloh ..?"

Pemuda itu menjawab :

"Iya.. Dosaku lebih besar.." 

Rosulullah bertanya :

"Apakah dosamu lebih besar dari arsy..?"

Pemuda itu menjawab :

"Iya... Lebih besar.." 

Melihat keseriusan sang pemuda yang berdosa itu, Rosulullah SAW bertanya dengan lebih tegas:

"Apakah dosamu lebih besar dari Allah..?" 

Tentu pemuda itu menjawab :

"Tidak... Allah SWT lebih besar dan lebih agung daripada apapun"

Rasa penasaran membuat Rosulullah SAW ingin tahu apa dosa besar yang sudah dilakukan pemuda itu, kemudian Rosulullah bertanya :

"Ceritakan padaku, dosa yang telah engkau perbuat.."

Pemuda itu menjawab :

"Aku malu menceritakannya kepadamu, wahai Rosulullah.." 

Rosulullah SAW pun menegaskan dengan lebih tegas lagi :

"Jangan malu untuk menceritakan dosamu kepadaku.."

Namun, dengan berat hati dan rasa malu yang begitu besar, akhirnya pemuda itu menceritakan kepada rosulullah SAW atas dosa besar yang telah ia lakukan :

“Sesungguhnya aku bekerja sebagai seorang penggali kubur selama tujuh tahun. Pada waktu itu seorang wanita cantik dari kalangan sahabat anshor meninggal dunia. Setelah dia terkubur, aku menggali kembali kuburannya dan mengeluarkannya dari kain kafannya. Setan pun mengoda dan merayuku sehingga aku menyetubuhinya”.


Pemuda itu masih melanjutkan kisah di mana dia melakukan dosa besar “Tiba-tiba, wanita yang telah meninggal itu berkata padaku:

“Apakah kamu tidak malu atas keputusan Allah pada hari diletakkan kursi-Nya untuk memberikan keputusan, dan dibalasnya hak orang yang teraniaya atas orang yang menganiaya. Kamu telah meninggalkanku dalam keadaan telanjang dalam golongan orang-orang yang mati, dan kamu telah membiarkanku dalam keadaan junub di sisi Allah”.

Mendengar cerita tentang perbuatan menjijikkan itu, Rosulullah SAW langsung berdiri, Beliau sangat marah, lalu mengusirnya.

“Enyahlah dari hadapanku, tidak ada balasan bagimu kecuali neraka !”.

Pemuda itu pun pergi dengan cucuran air mata yang tak terhentikan. Rasa sedih bercampur perasaan dosa itu membuatnya sulit menelan makanan dan minuman, bahkan dosa yang sudah dia perbuat selalu menghantuinya sehingga sulit baginya untuk tidur.

Selama tujuh hari sudah tak henti-hentinya dia terus menangis dan menyesali apa yang sudah dia perbuat, tanpa mempedulikan kondisi tubuh yang semakin melemah tak berdaya.  Sampai di mana dia meletakkan wajahnya di atas pasir dan berdoa :

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu yang berbuat dosa dan salah. Aku datang ke rumah Rosul-Mu untuk meminta pertolongannya dihadapan-Mu. Tetapi ketika ia mendengar besarnya kesalahanku, ia mengusir dan mengeluarkanku dari rumahnya. Maka pada hari ini aku mendatangi pintu rohmat-Mu agar Engkau memberiku pertolongan dihadapan kekasih-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Mu. Dan tidak akan surut harapanku kecuali hanya kepada-Mu. Jika tidak, maka turunkan api-Mu dan bakarlah aku di dunia-Mu sebelum Engkau membakarku di akhirat-Mu”.

Pada saat itu pula Malaikat Jibril datang menemui Rosulullah SAW dan berkata:

“Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepadamu, wahai Muhammad”.

Rosulullah SAW menyambut kedatangan Malaikat Jibril seraya mengatakan:

“Dia adalah Dzat yang memberi salam (keselamatan), keselamatan datang dari-Nya dan hanya kepada-Nya keselamatan itu akan kembali”.

Sebenarnya, Malaikat Jibril sedang menyampaikan sindiran dan teguran kepada Rosulullah SAW.
“Allah bertanya kepadamu (menyindir Rosulullah).

“Apakah kamu yang menciptakan hamba-hamba-Ku ?”.
Rosulullah SAW menjawab:

“Tidak, Dia yang menciptakanku dan makhluk-makhluk-Nya”.

Malaikat Jibril berkata:

“Allah bertanya “Apakah kamu yang memberi mereka rizki ?”. 

Rosulullah SAW menjawab:

“Tidak, Dia yang memberi mereka rizki dan memberikanku rizki”.

Malaikat Jibril masih melanjutkan teguran dari Allah untuk Rosulullah SAW.

“Allah bertanya:

“Apakah kamu yang menerima taubat mereka ?”. 

Rosulullah SAW menjawab: 

“Tidak, Dia yang menerima taubat hamba-hamba-Nya dan mengampuni kesalahan mereka”.

Kemudian Malaikat Jibril melanjutkan “Allah berkata:

“Aku mengutus kepadamu seorang hamba dari hamba-hamba-Ku, dia menjelaskan dosanya kepadamu, tetapi engkau malah berpaling keras hanya karena satu dosa. Maka bagaimana dengan hamba-hamba-Ku yang berbuat dosa besok ketika mereka datang dengan dosa seperti gunung yang besar. Kamu adalah utusan-Ku, Aku mengutusmu sebagai rohmatal lil alamin (rohamat bagi seluruh alam). Maka jadilah pengasih bagi orang-orang mu’min dan penolong bagi orang-orang yang berbuat dosa. Maafkanlah dosa hamba-Ku (pemuda itu), karena sesungguhnya Aku telah mengampuni dan menerima taubatnya !”.

Setelah mendapatkan teguran keras dari Allah SWT, Rosulullah SAW segera menyuruh para sahabat untuk mencari pemuda itu untuk memberikan berita bahagia bahwa Allah SWT telah memaafkan dan mengampuninya.

Para sahabat pun segera mencari pemuda itu dan berhasil menemukannya setelah beberapa usaha pencarian. Para sahabat mengatakan kepada pemuda itu seperti apa yang diperintahkan oleh Rosulullah SAW bahwa Allah SWT telah menerima taubatnya.

Pada saat itu, waktu sholat maghrib telah tiba, para sahabat membawa pemuda itu untuk menghadap Rosulullah SAW. Kemudian, mereka semua ikut melaksanakan sholat maghrib secara berjamaah bersama Rosulullah SAW.

Ketika Rosullullah SAW membaca fatihah dan diikuti bacaan surat Al-Ghosyiyah “alhakumut takastur” sampai bacaan “hatta zurtumul maqobir”, pemuda tersebut menjerit dengan keras dan terjatuh. Seusai melaksanakan sholat berjamaah, para sahabat mendapati pemuda itu telah meninggal dunia.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rohmat dan ampunan-Nya kepada pemuda itu, juga kepada para hamba-Nya mau bertaubat dan mengakui segala dosa-dosa kepada-Nya, amiin ya Rob.

Sumber : Kitab Durrotun Nashihin, Hal. 253-254.
Buka Komentar
Blogger
Disqus
Komentar

No comments

Advertiser